Rabu, 24 April 2013

makalah dan definisi neonatus neonatorum



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Namun, banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali.
Masalah pada neonatus ini biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta kurangnya perawatan bayi baru lahir.
Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Salah satu kasus yang banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah adalah kasus tetanus. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Mortalitasnya sangat tinggi karena biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat. Penanganan yang sempurna memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas. Tingginya angka kematian sangat bervariasi dan sangat tergantung pada saat pengobatan dimulai serta pada fasilitas dan tenaga perawatan yang ada.
Di Indonesia, sekitar 9,8% dari 184 ribu kelahiran bayi menghadapi kematian. Contoh, pada tahun 80-an tetanus menjadi penyebab pertama kematian bayi di bawah usia satu bulan. Namun, pada tahun 1995 kasus serangan tetanus sudah menurun, akan tetapi ancaman itu tetap ada sehingga perlu diatasi secara serius. Tetanus juga terjadi pada bayi, dikenal dengan istilah tetanus neonatorum, karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan (neonatus). Penyebabnya adalah spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.
Dengan tingginya kejadian kasus tetanus ini sangat diharapkan bagi seorang tenaga medis, terutama seorang bidan dapat memberikan pertolongan/tindakan pertama atau pelayanan asuhan kebidanan yang sesuai dengan kewenangan dalam menghadapi kasus tetanus neonatorum.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari tetanus neonatorum ?
2.      Apa etiologi dari tetanus neonatorum?
3.      Apa epidemiologi dari tetanus neonaorum?
4.      Apa patologi dari tetanus neonatorum?
5.      Apa diagnosis dari tetanus neonatorum?
6.      Apa pencegahan dari tetanus neonatorum?
7.      Apa penanganan dari tetanus neonatorum?

1.3  Tujuan Masalah
1.      Mengetahui pngertian dari tetanus neonatorum
2.      Mengetahui etiologi dari tetanus neonatorum
3.      Mengetahui epidemiologi dari tetanus neonatorum
4.      Mengetahui patologi dari tetanus neonatorum
5.      Mengetahui diagnosis dari tetanus neonatorum
6.      Mengatahui pencegahan dari tetanus neonatorum
7.         Mengetahui penanganan dari tetanus neonatorum










BAB II
PEMBAHASAN

     2.1 Pengertian Tetanus Neonatorum
Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intra uterus ke kehidupan intra uterin hingga berusia kurang dari 1 bulan. (Asri Rosad, 1987)
Tetanus merupakan penyakit yang akut dan sering kali fatal. Kata tetanus berasal dari bahasa yunani tetanos, yang diambil dari kata teinein yang berarti teregang.
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang sistem saraf pusat. (Abdul Bari Saifuddin, 2000)
            Tetanus neonatorum merupakan penyebab kejang yang sering dijumpai pada bayi baru lahir yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia, tetapi disebabkan oleh infeksi selama masa neonatal, yang antara lain terjadi sebagai akibat pemotongan tali pusat atau perawatan yang tidak aseptik.
            Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clostridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem saraf pusat.
            Kebanyakan tetanus neonatorum terdapat pada bayi yang lahir dengan dukun peraji yang belum mengikuti penataran dari Departemen Kesehatan. Dermatol yang dahulu dipakai sebagai obat pusar sekarang tidak dibenarkan lagi untuk dipakai karena ternyata pada dermatol dapat dihinggapi spora clostridium tetani. Spora kuman tersebut masuk ke dalam tubuh bayi melalui pintu masuk satu-satunya yaitu tali pusat yang dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat pada saat bayi lahir maupun pada saat perawatannya (sebelum terlepasnya tali pusat). Misalnya pemotongan tali pusat dengan gunting yang tidak steril atau setelah tali pusat dipotong dibubuhi abu, minyak, daun-daunan dan sebagainya. Masa  inkubasi 3-28 hari, rata-rata 6 hari, apabila masa inkubasi kurang dari 7 hari biasanya penyakit lebih parah dan angka kematiannya tinggi.
            Faktor resiko untuk terjadinya tetanus neonatorum, yaitu :
1)      Pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan atau tidak lengkap atau tidak sesuai dengan ketentuan program
2)      Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat-syarat 3 bersih
3)      Perawatan tali pusat tidak memenuhi persyaratan kesehatan
            Kekebalan terhadap tetanus hanya dapat diperoleh melalui imunisasi TT. Sembuh dari penyakit tidak berarti bayi selanjutnya kebal terhadap tetanus. Toksin tetanus dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan penyakit tetanus, tidak cukup untuk merangsang tubuh penderita dalam membentuk zat anti body terhadap tetanus. Itulah sebabnya bayi penderita tetanus harus menerima imunisasi TT pada saat diagnosis dan/atau setelah sembuh.
            TT akan merangsang pembentukan antibody spesifik yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam tubuhnya akan membentuk antibody tetanus. Seperti difteri, antibody tetanus termasuk dalam golongan IgG yang mudah melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh, yang akan mencegah terjadinya tetanus neonatorum.
            Imunisasi TT pada ibu hamil diberikan 2 kali (2 dosis). Jarak pemberian TT pertama dan kedua serta jarak antara TT kedua dengan saat kelahiran, sangat menentukan kadar antibody tetanus dalam darah bayi. Interval imunisasi TT dosis pertama dengan dosis kedua minimal 4 minggu. Semakin lama interval antara pemberian TT pertama dan kedua serta antara TT kedua dengan kelahiran bayi, maka kadar antibody tetanus dalam darah bayi akan semakin tinggi, karena interval yang panjang akan mempertinggi respon imunologik dan diperoleh cukup waktu untuk menyeberangkan antibody tetanus dalam jumlah yang cukup dari tubuh ibu hamil ke tubuh bayinya.
            TT adalah anti gen yang sangat aman dan juga aman untuk ibu hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT. Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak didapatkan perbedaan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang tidak mendapatkan imunisasi.


2.2 Etiologi
                        Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani. Kuman ini bersifat anaerobik dan mengeluarkan eksotoksin yang neorotropoik.

2.3 Epidemiologi
            Clostridium tetani berbentuk batang langsing, tidak berkapsul, gram positip. Dapat bergerak dan membentuk sporaspora, terminal yang menyerupai tongkat penabuh genderang (drum stick). Spora spora tersebut kebal terhadap berbagai bahan dan keadaan yang merugikan termasuk perebusan, tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dengan otoklaf. Kuman ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah, asalkan tidak terpapar sinar matahari, selain dapat ditemukan pula dalam debu, tanah, air laut, air tawar dan traktus digestivus manusia serta hewan.

2.4 Patologi
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak pada sumsum tulang belakang, dan terutama pada nukleus motorik. Kematian disebabkan oleh asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu kematian dapat disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernafasan dan peredaran darah. Sebab kematian yang lain ialah pneumonia aspirasi dan sepsis. Kedua sebab yang terakhir ini mungkin sekali merupakan sebab utama kematian tetanus neonatorum di Indonesia.









 2.5 Gejala klinis
Gejala klinis tetanus neonatorum adalah tiba-tiba bayi demam/panas, bayi tiba-tiba menjadi suli menetek karena kejang otot rahang dan pharing (trismus), mulut mencucu seperti mulut ikan, kejang terutama terkena rangsangan cahaya, suara atau sentuhan, kadang-kadang disertai sesak nafas dan wajah membiru, kaku kuduk, posisi punggung melengkung, kepala mendongak ke atas (opistotonus). Sering timbul komplikasi terutama bronkhopneumonia, asfiksia dan sianosis akibat obstruksi jalan nafas oleh lendir/sekret, serta sepsis.
            Masa tunas biasanya 3-10 hari, kadang-kadang sampai beberapa minggu jika infeksinya ringan. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher,dalam 24 jam penyakit menjadi nyata dengan adanya trismus.
            Pada tetanus neonatorum perjalanan penyakit lebih cepat dan berat, anamnesis lebih spesifik yaitu :
      1.    Tubuh bayi tiba-tiba panas
      2.     Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek (trismus) karena  kejang otot rahang dan tenggorok
      3.      Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan (gejala yang khas)
      4.      Kejang terutama apabila terkena rangsangan cahaya, suara dan sentuhan
      5.      Kadang-kadang disertai sesak nafas dan wajah bayi membiru
      6.      Kaku kuduk sampai opistotonus (kepala mendongak keatas)
      7.      Dinding abdomen kaku, mengeras dan kadang-kadang terjadi kejang
      8.      Suhu tubuh bayi meningkat
      9.      Dahi berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut tertarik kebawah, muka rhisus sardonikus
      10.  Ekstermitas biasanya terulur dan kaku
      11.  Tiba-tiba bayi sensitif terhadap rangsangan, gelisah dan kadang-kadang menangis
            Tetanus neonatorum harus memiliki kriteria, yaitu bayi lahir hidup, dapat menangis dan menetek dengan normal minimal 2 hari, pad bulan pertama kehidupan timbul gejala sulit menetek disertai kekakuan an/atau kejang otot.


Tabel Perbandingan Tetanus Neonatorum Sedang dan Berat
Kategori
Tetanus Neonatorum Sedang
Tetanus Neonatorum Berat
Umur
>7 hari
0-7 hari
Frekuensi kejang
Kadang-kadang
Sering
Bentuk kejang
Mulut mencucu, trismus kadang-kadang, kejang rangsang(+)
Mulut mencucu, trismus terus-menerus, kejang rangsang (+)
Posisi Badan
Opistotonus kadang-kadang

Selalu Opistotonus
Kesadaran
Masih sadar
Masih sadar
Tanda infeksi
Tali pusat kotor, lubang telinga bersih/kotor
Tali pusat kotor, lubang telinga bersih/kotor


2.6 Diagnosis
Diagnosis tetanus neonetorum tidak susah. Trismus, kejang umum, dan mengkakunya otot-otot merupakan gejala utama tetanus neonatorum. Kejang dan mengkakunya otot-otot dapat pula ditemukan misalnya pada kernicterus, hipokalsemia, meningitis, trauma lahir, dan lain-lain. Gejala trismus biasanya hanya terdapat pada tetanus.



2.7 Pencegahan
                   Melalui pertolongan persalinan tiga bersih, yaitu bersih tangan, bersih alas, dan bersih alat.
1.      Bersih tangan
Sebelum menolong persalinan, tangan poenolong disikat dan dicuci dengan sabun sampai bersih. Kotoran di bawah kuku dibersihkan dengan sabun. Cuci tangan dilakukan selama 15 – 30 “ . Mencuci tangan secara benar dan menggunakan sarung tangan pelindung merupakan kunci untuk menjaga lingkungan bebas dari infeksi.
2.      Bersih alas
Tempat atau alas yang dipakai untuk persaliunan harus bersih, karena clostrodium tetani bisa menular dari saluran genetal ibu pada waktu kelahiran.
3.      Bersih alat
Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril. Metode sterilisasi ada 2, yang pertama dengan pemanasan kering : 1700 C selama 60 ‘ dan yang kedua menggunakan otoklaf : 106 kPa, 1210 C selama 30 ‘ jika dibungkus, dan 20 ‘ jika alat tidak dibungkus.

       Perawatan tali pusat yang baik
Untuk perawatan tali pusat baik sebelum maupun setelah lepas, cara yang murah dan baik yaitu mernggunakan alkohol 70 % dan kasa steril. Kasa steril yang telah dibasahi dengan alkohol dibungkuskan pada tali pusat terutama pada pangkalnya. Kasa dibasahi lagi dengan alkohol jika sudah kering. Jika tali pusat telah lepas, kompres alkohol ditruskan lagi sampai luka bekas tali pusat kering betul (selama 3 – 5 hari). Jangan membubuhkan bubuk dermatol atau bedak kepada bekas tali pusat karena akan terjadi infeksi.

       Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu hamil
Kekebalan terhadap tetanus hanya dapat diperoleh melalui imunisasi TT. Ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam tubuhnya akan membentuk antibodi tetanus. Seperti difteri, antibodi tetanus termasuk dalam golongan Ig G yang mudah melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin, yang akan mencegah terjadinya tetanis neonatorum.
Imunisasi TT pada ibu hamil diberikan 2 kali ( 2 dosis). Jarak pemberian TT pertama dan kedua, serta jarak antara TT kedua dengan saat kelahiran, sangat menentukan kadar antibodi tetanus dalam darah bayi. Semakin lama interval antara pemberian TT pertama dan kedua serta antara TT kedua dengan kelahiran bayi maka kadar antibosi tetanus dalam darah bayi akan semakin tinggi, karena interval yang panjang akan mempertinggi respon imunologik dan diperoleh cukup waktu untuk menyeberangkan antibodi tetanus dalam jumlah yan cukup dari tubuh ibu hamil ke tubuh bayinya.
TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk ibu hamil tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT . Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak didapatkan perbedaan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan mereka yang tidak mendapatkan imunisasi .

Pemberian Imunisasi TT dan Lamanya Perlindungan

Dosis

Saat Pemberian

% Perlindungan

Lama Perlindungan


TT1

 

TT2

TT3

TT4

TT5


Pada kunjungan pertama atausedini mungkin pada kehamilan
Minimal 4 minggu setelah TT1
Minimal 6 bulan setelah TT2 atau selama kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT3 atau selama kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT4 atau selama kehamilan berikutnya.
0


80 %

95 %

99 %
99 %

Tidak ada

3 tahun

5 tahun

10 tahun
selama usia subur


2.8 Penatalaksanaan
1.    Medik
     Mengatasi kejang
Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan atau pemberian obat anti kejang. Obat yang dapat dipakai adalah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikas mula-mula 30 – 60 mg parenteral kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain adalah luminal dan diazepam dengan dosis 0,5 mg/kg BB. Obat anti kejang yang lain adalah kloralhidrat yang diberikan lewat rektum.
      Pemberian antitoksin
Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi A.T.S (antitetanus serum) dengan dosis 10.000 satuan setiap hari serlama 2 hari .

        Pemberian antibiotika
Untuk mengatasi inferksi dapat digunakan penisilin 200.000 satuan setiap hari dan diteruskan sampai 3 hari panas turun.
            Tali pusat dibersihkan atau di kompres dengan alkohol 70 % atau betadin 10 %.
        Memperhatikan jalan nafas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.

2.    Perawatan
Masalah yang perlu diperhatikan adalah bahaya terjadi gangguan pernafasan, kebutuhan nutrisi/cairan dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.

       Bahaya terjadinya gangguan pernafasan
Gangguan pernafasan yang sering timbul adalah apnea, yang disebabkan adanya tenospasmin yang menyerang otot-otot pernafasan sehingga otot tersebut tidak berfungsi. Adanya spasme pada otot faring menyebabkan terkumpulnya liur di dalam rongga mulut sehingga memudahkan terjadinya poneumonia aspirasi. Adanya lendir di tenggorokan juga menghalangi kelancaran lalu lintas udara (pernafasan). Pasien tetanus neonatorum setiap kejang selalu disertai sianosis terus-menerus. Tindakan yang perlu dilakukan :
a.   Baringkan bayi dalam sikap kepala ekstensi dengan memberikan ganjal di bawah bahunya.
b.   Berikan O2 secara rumat karena bayi selalu sianosis (1 – 2 L/menit jika sedang terjadi kejang, karena sianosis bertambah berat O2 berikan lebih tinggi dapat sampai 4 L/menit, jika kejang telah berhenti turunkan lagi).
c.   Pada saat kejang, pasangkan sudut lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan memudahkan penghisapan lendirnya.
d.   Sering hisap lendir, yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat pada mulut bayi.
e.   Observasi tanda vital setiap ½ jam .
f.    Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat.
g.   Jika bayi menderita apnea :
h.   Hisap lendirnya sampai bersih
i.    O2 diberikan lebih besar (dapat sampai 4 L/ menit)
j.    Letakkan bayi di atas tempat tidurnya/telapak tangan kiri penolong, tekan-tekan bagian iktus jantung di tengah-tengah tulang dada dengan dua jari tangan kanan dengan frekuensi 50 – 6 x/menit.
k.   Bila belum berhasil cabutlah sudut lidahnya, lakukan pernafasan dengan menutup mulut dan hidung bergantian secara ritmik dengan kecepatan 50 – 60 x/menit, bila perlu diselingi tiupan.

Kebutuhan nutrisi/cairan
Akibat bayi tidak dapat menetek dan keadaan payah, untuk memenuhi kebutuhan makananya perlu diberikan infus dengan cairan glukosa 10 %. Tetapi karena juga sering sianosis maka cairan ditambahkan bikarbonas natrikus 1,5 % dengan perbadingan 4 : 1. Bila keadaan membaik, kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan selanjutnya sejalan dengan perbaikan bayi dapat diubah memakai dot secara bertahap.

     Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Kedua orang tua pasien yang bayinya menderita tetanus peru diberi penjelasan bahwa bayinya menderita sakit berat, maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus, kerberhasilan pengobatan ini tergantung dari daya tahan tubuh si bayi dan ada tidaknya obat yang diperlukan hal ini mengingat untuk tetanus neonatorum memerlukan alat/otot yang biasanya di RS tidak selalu tersedia dan harganya cukup mahal (misalnya mikrodruip). Selain itu yang perlu dijelaskan ialah jika ibu kelak hamil lagi agar meminta suntikan pencegahan tetanus di puskesmas, atau bidan, dan minta pertolongan persalinan pada dokter, bidan atau dukun terlatih yang telah ikut penataran Depkes. Kemudian perlu diberitahukan pula cara pearawatan tali pusat yang baik.




























Bagan Penanganan Tetanus Neonatorum
Tanda – tanda
Tiba-tiba bayi demam/panas, mendadak bayi tidak mau/tidak bisa menetek (mulut tertutup atau trismus), mulut mencucu seperti ikan, mudah sekali kejang
(misalnya kalau dipegang, kena sinar, atau kaget-kaget), disertai sianosis, kuduk kaku, posisi punggung melengkung, kepala mendongak keatas (opistotonus).
KATEGORI
Tetanus Neonatorum Sedang
Tetanus Neonatorum Berat
PENILAIAN

>7 hari
Kadang-kadang

ü  Mulut mencucu
ü  Trismu kadang-kadang
ü  Kejang rangsang (+)
Opistotonus kadang-kadang
Masih sadar.

ü  Tali pusat kotor
ü  Lubang
telinga bersih/kotor

0-7
Sering

ü  Mulut mencucu
ü  Trismus
terus-menerus
ü  Kejang rangsang (+)
Selalu opistotonus
Masih sadar.

ü  Tali pusat kotor
ü  Lubang
Telinga bersih/kotor

  • Umur bayi
  • Frekuensi kejang
  • Bentuk kejang




  • Posisi badan
  • Kesadaran
  • Tanda-tanda infeksi
PENANGANAN

PUSKESMAS
  • Bersihkan jalan nafas
  • Masukan sendok/spatel dibungkus kain untuk menekan lidah
  • Beri oksigen
  • Atasi kejang dengan :
ü Diazepan
0.5 mg/kg/i.m atau supositoria
ü Apabila masih kejang, ulangi tiap 30 menit.
ü Ditambah luminal 30 mg i.m sampai kejang berhenti.
  • Infus glukosa 10% sebanyak 80 ml/kg/hari.
  • Antibiotika 1 kali (pensilin50.000 U/kg/hari i.m)
  • Bersihkan tali pusat
  • Rujuk ke rumah sakit

Rumah Sakit
Sama seperti diatas
Sama seperti diatas
  • Umur lebih dari 24 jam ditambah bikarbonas natrikus 1,5 %(4:1)
  • Dosis anti kejang i.v dengan dosis rumat
  • Diazepam 8-10 mg/kg i.v diganti tiap 6 jam
  • ATS 10.000 U/hari i.m
  • Ampisilin 100 mg/kg i.v. atau prokain 50.000 U/kg i.m selama 3 hari
  • Ruang perawatan tenang




























BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Tetanus neonatorum adalah:merupakan penyakit pada bayi baru lahir yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia tatapi disebabkan oleh infeksi masuknya kuman tetanus melalui luka tali pusat
            Penyebab penyakit tetanus neonarorium yaitu :
1. Kuman Clostridium Tetani
2. Pemotongan tali pusat bayi menggunakan alat yang tidak bersih atau steril.
3.  Luka tali pusat kotor atau tdak bersih.
4. Ibu hamil tidak mendapat imunisasi TT(Tetanus Toksoid) lengkap.
           Adapun gejala yang timbul pada penyakit tetanus neonatorium yakni:
1. Mulut mencucu seperti mulut ikan
2. Bayi tiba-tiba panas.
3. Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang pada otot faring
4. Mudah sekali kejang disertai sianosis (biru),
5. Kejang, otot kaku/spasm dengan kesadaran tak terganggu.
6. Dinding perut tegang (perut papan)
7. Trismus (kesukaran membuka mulut/mulut tertutup).
8. Kesukaran menelan
            Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Imunisasi aktif
2.  Perawatan tali pusat yang baik
3. Pemberian toksoid tetanus pada ibu hamil 3 kali berturut-turut pada trimester ke 3
4. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril

SARAN
Demi kepentingan bersama dan kesempurnaan makalah ini, kritik, saran dan masukan yang bermanfaat dari teman – teman sangat kami butuhkan. Mohon di baca dengan teliti dan di mengerti.

DAFTAR PUSTAKA


Behrman, Kliegman, Arvin.1996. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC.                
Nur muslihatun, wafi. 2010. Asuhan neonates bayi da balita.yogyakarta : Fitramaya
Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2002. Pelayanan Kesehatan Material Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar