Minggu, 21 April 2013

makalah emboli air ketuban




BAB 1
LANDASAN TEORI
A. Latar Belakang
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock.  Sindrom cairan ketuban adalah sebuah gangguan langka dimana sejumlah besar cairan ketuban tiba – tiba memasuki aliran darah. Emboli cairan ketuban adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental. yang dapat menghambat pembuluh darah dan mencairkan darah yang mempengaruhi koagulasi. Dua tempat utama masuknya cairan ketuban dalam sirkulasi darah maternal adalah vena yang dapat robek sekalipun pada persalinan normal. Ruptura uteri meningkatkan kemampuan masuknya cairan ketuban. (dr. Irsjad Bustaman, SpOG.2009)
Emboli cairan ketuban dapat terjadi bila ada pembukaan pada dinding pembuluh darah dan dapat terjadi pada  wanita tua/ usia lebih dari 30 tahun, sindrom janin mati, Multiparitas, Janin besar intrauteri, Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi, Menconium dalam cairan ketuban dan kontraksi uterus yang kuat. Dua puluh lima persen wanita yang menderita keadaan ini meninggal dalam waktu 1 jam. Emboli air ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus yang sangat jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000 kelahiran. Bahkan hingga tahun 1950, hanya ada 17 kasus yang pernah dilaporkan. Sesudah tahun 1950, jumlah kasus yang dilaporkan sedikit meningkat. Dalam kenyataannya memang emboli cairan ketuban jarang dijumpai, namun kondisi ini dapat mengakibatkan kematian ibu dengan cepat. Sekalipun mortalitas tinggi, emboli cairan tidak selalu membawa kematian pada tiap kasus. 75% wanita meninggal sebagai akibat langsung emboli. Sisanya meninggal akibat perdarahan yang tidak terkendali. Meskipun jarang terjadi, tetapi bila edema cairan ketuban terjadi pada wanita, maka akan menyumbat aliran darah ke paru, yang bila meluas akan mengakibatkan penyumbatan dijantung, sehinggaa iskemik dan kematian jantung secara mendadak bisa terjadi. Karena wanita tersebut akan mengalami gangguan penapasan, syok, hipotermi, Dyspnea, Batuk, Hipotensi perubahan pada membran mukosa akibat dari hipoksia Cardiac arrest. Koagulopati atau pendarahan parah karena tidak adanya penjelasan lain (DIC terjadi di 83% pasien.). Risiko emboli cairan ketuban tidak bisa diantisipasi jauh-jauh hari karena emboli paling sering terjadi saat persalinan. Dengan kata lain, perjalanan kehamilan dari bulan ke bulan yang lancar-lancar saja, bukan jaminan ibu aman dari ancaman EAK. Sementara bila di persalinan sebelumnya ibu mengalami EAK, belum tentu juga kehamilan selanjutnya akan mengalami kasus serupa. Begitu juga sebaliknya.

B.PENGERTIAN EMBOLI AIR KETUBAN
Emboli air ketuban adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen disini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban, seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental.Secara keseluruhan, insiden berkisar antara 1 dalam 8000 sampai 1 dalam 80000 kehamilan. Di Amerika, emboli air ketuban menempati 10 persen dari penyebab kematian ibu, sedangkan di Inggris, persentasenya berkisar 16 persen. Sebagian besar penderita emboli air ketuban yang selamat, menderita gangguan neurologis.Emboli air ketuban dapat terjadi saat persalinan, baik normal maupun melalui operasi Caesar. Pada saat persalinan, terdapat risiko untuk terjadinya emboli air ketuban karena banyak pembuluh darah balik yang terbuka, yang memungkinkan air ketuban masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyumbat pembuluh darah balik.
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock. Dua 25%  wanita yang menderita keadaan ini meninggal dalam waktu 1 jam. Emboli cairan ketuban jarang dijumpai. Kemungkinan banyak kasus tidak terdiagnosis yang dibuat adalah shock obstetrik, perdarahan post partum atau edema pulmoner akut. Cara masuknya cairan ketuban Dua tempat utama masuknya cairan ketuban kedalam sirkulasi darah maternal adalalah vena endocervical ( yang dapat terobek sekalipun pada persalinan normal ) dan daerah utero plasenta.Ruputra uteri meningkat kemungkinan masuknya cairan ketuban. Abruption plasenta merupakan peristiwa yang sering di jumpai, kejadian ini mendahului atau bersamaan dengan episode emboli.
         Menurut dr. Irsjad Bustaman, SpOG  Emboli air ketuban (EAK) adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban  seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental. Emboli air ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus yang sangat jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000 kelahiran. Bahkan hingga tahun 1950, hanya ada 17 kasus yang pernah dilaporkan. Sesudah tahun 1950, jumlah kasus yang dilaporkan sedikit meningkat.
EAK umumnya terjadi pada kasus aborsi, terutama jika dilakukan setelah usia kehamilan 12 minggu. Bisa juga saat amniosentesis (tindakan diagnostik dengan cara mengambil sampel air ketuban melalui dinding perut). Ibu hamil yang mengalami trauma / benturan berat juga berpeluang terancam EAK. Namun, kasus EAK yang paling sering terjadi justru saat persalinan atau beberapa saat setelah ibu melahirkan (postpartum). Baik persalinan normal atau sesar tidak ada yang dijamin 100% aman dari risiko EAK, karena pada saat proses persalinan, banyak vena-vena yg terbuka, yang memungkinkan air ketuban masuk ke sirkulasi darah ibu. Emboli air ketuban merupakan kasus yang berbahaya yang dapat membawa pada kematian. Bagi yang selamat, dapat terjadi efek samping seperti gangguan saraf.
C.ETIOLOGI
Patofisiologi belum jelas diketahui secara pasti. Diduga bahwa terjadi kerusakan penghalang fisiologi antara ibu dan janin sehingga bolus cairan amnion memasuki sirkulasi maternal yang selanjutnya masuk kedalam sirkulasi paru dan menyebabkan :
1.       Kegagalan perfusi secara masif
2.          Bronchospasme
3.          Renjatan
             a.    Multiparitas dan  Usia lebih dari 30 tahun
Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit . Khususnya kalau wanita itu multipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar , mungkin sudah meningal dengan meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada kemungkinan ini ( emboli cairan ketuban ) .
             b.    Janin besar intrauteri
Menyebabkan rupture uteri saat persalinan, sehingga cairan ketubanpun dapat masuk melalui pembuluh darah.
             c.    Kematian janin intrauteri
Juga akan menyebabkan perdarahan didalam, sehingga kemungkinan besar akan ketuban pecah dan memasuki pembuluh darah ibu, dan akan menyubat aliran darah ibu, sehingga lama kelamaan ibu akan mengalami gangguan pernapasan karena cairan ketuban menyubat aliran ke paru, yang lama kelamaan akan menyumbat aliran darah ke jantung, dengan ini bila tidak tangani dengan segera dapat menyebabkan iskemik bahkan kematian mendadak.
             d.    Menconium dalam cairan ketuban
             e.    Kontraksi uterus yang kuat
Kontraksi uterus yang sangat kuat dapat memungkinkan terjadinya laserasi atau rupture uteri, hal ini juga menggambarkan pembukaan vena, dengan pembukaan vena, maka cairan ketuban dengan mudah masuk ke pembuluh darah ibu, yang nantinya akan menyumbat aliran darah, yang mengakibatkan hipoksia, dispue dan akan terjadi gangguan pola pernapasan pada ibu.
             f.     Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi
Dengan prosedur operasi tidak jauh dari adanya pembukaan pembuluh darah, dan hal ini dapat terjadi ketuban pecah dan masuk ke pembuluh darah ibu.

        D.Fisiologi
Ketuban (Amnion) manusia pertama kali dapat diidentifikasi pada sekitar hari ke-7 atau ke-8 perkembangan mudigah. Pada awalnya sebuah vesikel kecil yaitu amnion, berkembang menjadi sebuah kantung kecil yang menutupi permukaan dorsal mudigah. Karena semakin membesar, amnion secara bertahap menekan mudigah yang sedang tumbuh, yang mengalami prolaps ke dalam rongga amnion.
Cairan ketuban (amnion) pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan normal. Pada kehamilan 10 minggu rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20 minggu 300 ml, 30 minggu 600 ml. Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih mendominasi dibandingkan dengan janin sendiri.
Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion.
Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh kulit janin dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam memproduksi cairan amnion.
Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan amnion.
Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal, akan menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan pada janin, seperti atresia esophagus, atau anensefali, akan menyebabkan polihidramnion

E. Patofisiologi
Studi-studi pada primate dengan menggunakan injeksi cairan amnion homolog, serta study yang dilakukan secara cermat terhadap model kambing, menghasilkan penanaman yang penting tentang kelainan hemodinamik sentral (Adamsons dkk, 1971, Hankins dkk,1993, Stolte dkk, 1976). Setelah suatu fase awal hipertensi paru dan sistemik yang singkat, terjadi penurunan resistensi vaskuler sistemik dan indeks kerja pulsasi ventrikel kiri ( Clark dkk, 1988). Pada fase awal sering dijumpai desaturasi oksigen transient tetapi mencolok sehingga sebagian besar pasien yang selamat mengalami cedera neurologist (Harvey dkk, 1996). Pada wanita yang bertahan hidup melewati fase kolaps kardiovaskuler awal, sering terjadi fase sekunder berupa cedera paru dan koagulopati.
Keterkaitan hipertonisitas uterus dengan kolaps kardiovaskuler tampaknya lebih berupa efek daripada kausa emboli cairan amnion (Clark dkk, 1995). Memang aliran darah uterus berhenti total apabila tekanan intrauterine melebihi 35 sampai 40 mmHg (Towell, 1976). Dengan demikian . kontraksi hipertonik merupakan waktu yang paling kecil kemungkinannya terjadi pertukaran janin-ibu. Demikian juga, tidak terjadi hubungan sebab akibat antara pemakaian oksitosin dengan emboli cairan amnion dan frekuensi pemakaian oksitosin tidak meningkat pada para wanita ini (American College Of Obstetricians and Gynecologists, 1993).
Pathophysiology dari EAK yang kurang dipahami. Berdasarkan deskripsi awal, ia berteori bahwa cairan ketuban dan sel-sel janin memasuki sirkulasi ibu, mungkin memicu reaksi anafilaksis terhadap antigen janin. Namun, bahan janin tidak selalu ditemukan dalam sirkulasi ibu pada pasien dengan EAK, dan materi berasal dari janin yang sering ditemukan pada wanita yang tidak mengembangkan EAK.
Perjalanan cairan amnion memasuki sirkulasi ibu tidak jelas, mungkin melalui laserasi pada vena endoservikalis selama diatasi serviks, sinus vena subplasenta, dan laserasi pada segmen uterus bagian bawah. Kemungkinan saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. Akibat tekanan yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. Walaupun cairan amnion dapat masuk sirkulasi darah tanpa mengakibatkan masalah tapi pada beberapa ibu dapat terjadi respon inflamasi yang mengakibatkan kolaps cepat yang sama dengan syok anafilaksi atau syok sepsis. Selain itu, jika air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu dan sumbatan di paru-paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru. Pada fase I, akibat dari menumpuknya air ketuban di paru-paru terjadi vasospasme arteri koroner dan arteri pulmonalis. Sehingga menyebabkan aliran darah ke jantung kiri berkurang dan curah jantung menurun akibat iskemia myocardium. Mengakibatkan gagal jantung kiri dan gangguan pernafasan. Perempuan yang selamat dari peristiwa ini mungkin memasuki fase II. Ini adalah fase perdarahan yang ditandai dengan pendarahan besar dengan rahim atony dan Coagulation Intaravakuler Diseminata ( DIC ). Masalah koagulasi sekunder mempengaruhi sekitar 40% ibu yang bertahan hidup dalam kejadian awal. Dalam hal ini masih belum jelas cara cairan amnion mencetuskan pembekuan. Kemungkinan terjadi akibat dari embolisme air ketuban atau kontaminasi dengan mekonium atau sel-sel gepeng menginduksi koagulasi intravaskuler.

F.PEYEBAB
Emboli air ketuban disebabkan sumbatan mendadak pada aliran darah ibu hamil
     Sumbatan terjadi akibat material yang ada di dalam air ketuban. Kejadian emboli air ketuban sangat cepat dan tidak bisa diprediksi sebelumnya. Berikut ini adalah beberapa factor risiko penyebabnya. Meningkatnya usia si ibu. Multiparitas (banyak anak). Ada mekonium (kotoran bayi di dalam air ketuban). Laserasi serviks (lecet pada leher rahim). Kematian janin dalam kandungan. Kontraksi yang terlalu kuat. Persalinan singkat (ari-ari melekat sangat erat di dinding rahim). Air ketuban banyak. Rahim sobek. Riwayat alergi atau atopi pada si ibu. Infeksi pada selaput ketuban. Ukuran bayi besar.    
      G. Tanda gejala
Tanda dan gejala embolisme cairan amnion ( Fahy , 2001 ) antara lain :
1.    Hipotensi ( syok ), terutama disebabkan reaksi anapilactis terhadap adanya bahan –             bahan air ketuban dalam darah terutama emboli meconium bersifat lethal.
2.     Gawat janin ( bila janin belum dilahirkan )
3.     Edema paru atau sindrom distress pernafasan dewasa.
4.     Henti kardiopulmoner
5.     Sianosis
6.     Koagulopati
7.    Dispnea / sesak nafas yang sekonyong – konyongnya
8.    Kejang , kadang perdarahan akibat KID merupakan tanda awal.

H. Gambaran klinis
Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit . Khususnya kalau wanita itu mulipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar , mungkin sudah meningal dengan meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada kemungkinan ini ( emboli cairan ketuban ) .Jika sesak juga didahului dengan gejala mengigil yang diikuti dyspnea , vomitus , gelisah , dll disertai penurunan tekanan darah yang cepat serta denyut nadi yang lemah dan cepat .Maka gambaran tersebut menjadi lebih lengkap lagi . Jika sekarang dengan cepat timbul edema pulmoner padahal sebelumnya tidak terdapat penyakit jantung , diagnosa emboli cairan ketuban jelas sudah dapat dipastikan.
Pada uraian ini tidak ada lagi yang ditambahkan kecuali hasil pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa gambaran tersebut biasanya disertai kegagalan koagulasi darah pasien dan adanya perdarahan dari tempat plasenta.

Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit . Khususnya kalau wanita itu mulipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar , mungkin sudah meningal dengan meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada kemungkinan ini ( emboli cairan ketuban ) .Jika sesak juga didahului dengan gejala mengigil yang diikuti dyspnea , vomitus , gelisah , dll disertai penurunan tekanan darah yang cepat serta denyut nadi yang lemah dan cepat .Maka gambaran tersebut menjadi lebih lengkap lagi . Jika sekarang dengan cepat timbul edema pulmoner padahal sebelumnya tidak terdapat penyakit jantung , diagnosa emboli cairan ketuban jelas sudah dapat dipastikan.
Pada uraian ini tidak ada lagi yang ditambahkan kecuali hasil pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa gambaran tersebut biasanya disertai kegagalan koagulasi darah pasien dan adanya perdarahan dari tempat plasenta.

       I. FAKTOR RESIKO
Beberapa faktor resiko dalam emboli air ketuban dalah sebagai berikut 
1.      Meningkatnya usia ibu
2.      Multiparitas (banyak anak)
3.      Adanya mekoneum
4.      Laserasi serviks
5.      Kematian janin dalam kandungan
6.      Kontraksi yang terlalu kuat
7.      Persalinan singkat
8.      Plasenta akreta
9.      Air ketuban yang banyak
10.  Robeknya rahim
11.  Adanya riwayat alergi atau atopi pada ibu
12.  Adanya infeksi pada selaput ketuban
13.  Bayi besar

J . PENATALAKSANAAN
  a. Penatalaksanaan primer bersifat suportif dan diberikan secara agresif.
1.      Terapi krusnal , meliputi : resusitasi , ventilasi , bantuan sirkulasi , koreksi defek yang      khusus ( atonia uteri , defek koagulasi )
2.      Penggatian cairan intravena & darah diperlukan untuk mengkoreksi hipovolemia & perdarahan .
3.      Oksitosin yang di tambahkan ke infus intravena membantu penanganan atonia uteri.
4.      Morfin ( 10 mg ) dapat membantu mengurangi dispnea dan ancietas .
5.      Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi intravaskular dengan menghambat proses perbekuan
6.      Amniofilin ( 250 – 500 mg ) melalui IV mungkin berguna bila ada bronkospasme .
7.      Isoproternol di berikan perlahan – lahan melalui Iv untuk menyokong tekanan darah sistolik kira – kira 100 mmHg
8.      Kortikosteroid secara IV mungkin bermanfaat .
9.      0ksigen selalu merupakan indikasi intubasi dan tekan akhir ekspirasi positif (PEEP) mungkin diperlukan .
10.  Untuk memperbaiki defek koagulasi dapat digunakan plasma beku segar dan sedian trombosit.
b. Bila anak belum lahir, lakukan Sectio Caesar dengan catatan dilakukan setelah keadaan umum ibu stabil
c. X ray torak memperlihatkan adanya edema paru dan bertambahnya ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan.
d. Laboratorium : asidosis metabolik ( penurunan PaO2 dan PaCO2)


      
BAB II
ISI
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU PATOLOGI
Ny”N” Umur 32 tahun G4 P3 A0 Ah3, Uk 39 minggu dengan Emboli Air ketuban
DI BPS SAYANG IBU, SOLO-YOGYAKARTA


No. Register                                                    :  171017
Masuk RS/PKM/BPM Tanggal/Pukul            : 21 maret 2013
Dirawat di ruang                                             : Mawar

I.              PENGKAJIAN DATA,                     Tanggal/Pukul: 21-03-2013/09.00 WIB, Oleh : Bidan
A.          Data Subjektif
1.     Biodata                          Ibu                                        Suami
Nama              :           Ny. R                                      Tn. N 
Umur              :           32 tahun                                  35 tahun
Agama            :            Islam                                      Islam
Suku/bangsa   :           Jawa/Indonesia                       Jawa/Indonesia
Pendidikan     :           SMA                                        SMA
Pekerjaan        :            Pegawai swasta                      Pegawai swasta
Alamat           :        Jl. Janti, Yogyakarta              Jl. Janti, Yogyakarta

2.    Alasan datang/dirawat
Ibu datang pada tanggal 21 maret 2013 jam 16.10WIB dengankeluhan kenceng kenceng teratur
3.    Keluhan utama
Ibu merasakan kenceng kenceng teratur sejak pukul 06.10WIB
4.    Riwayat menstruasi
Menarche       : 14 tahun                                Siklus             : 28 hari
Lama              : 5 hari                                     Teratur            : teratur
Sifat darah     : cair, merah, bau khas darah   Keluhan          : tidak ada


5.    Riwayat perkawinan
Status perkawinan      : Sah                Menikah ke     : I (pertama)
Lama                          :  7 tahun         Usia menikah pertama kali      : 25 th

6.    Riwayat obstetrik : G4 P3 A0 Ah3
Hamil ke-
Persalinan
Nifas
Tanggal
Umur kehamilan
Jenis persalinan
Penolong
Komplikasi
JK
BB lahir
Laktasi
Komplikasi
1.
2007
39+2
Spontan
dukun
-
laki
3200
ya
-
2
2009
39 mg
Spontan
Bidan
-
Prempuan
3200
Ya
-
3
2011
39 mg
Spontan
Bidan
-
Laki
3300
ya
-
4
Hamil Ini










7.    Riwayat kontrasepsi yang digunakan
No
Jenis kontrasepsi
Pasang
Lepas
tanggal
oleh
tempat
Keluhan
tanggal
Oleh
tempat
alasan
1
Pil
2007
Bidan
BPS
-
2009


Ingin Hamil
2
Suntik
2009
bidan
BPM
-
2011
Bidan
BPM
Ingin hamil
3
Suntik
2011
Bidan
BPM
-
2012
Bidan
BPM
Ingin Hamil

8.    Riwayat kehamilan sekarang
a.                   HPM   : 22 jun 2012                           HPL: 29 maret 2013
b.                   ANC prtma umur kehamilan   : 8minggu
c.                   Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi         : 1 kali
Keluhan           : mual muntah
Komplikasi      :tidak ada
Terapi              : vitonal-af


Trimester II
Frekuensi         :3 kali
Keluhan           : tidak ada
Komplikasi      : tidak ada
Terapi              : Vitonal-AF
Trimester III
Frekuensi         :2 kali
Keluhan           : Tidak ada
Komplikasi      : Tidak ada
Terapi              :Vitonal-Af,Vitamin


9.    Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
d.      Nutrisi
Sebelum                                               Sesudah
Makan                                                     
Frekuensi             : 3 x/hari                                  3x/hari            
Jenis                     : nasi, sayur, lauk                     Nasi,Sayur,lauk
Porsi                     : 1 piring                                  1piring
Pantangan            : tidak ada                               Tidak ada                   
Keluhan               : tidak ada                               Tidak ada       
Minum
Frekuensi             : 6-7x/hari                                7-8x /hari
Jenis                     : air putih,teh                           air putih,susu
Porsi                     :1 gelas                                    1 gelas
Pantangan            : Tidak ada                              Tidak ada
Keluhan               : Tidak ada                              Tidak ada
e.       Eliminasi
BAB                    Sebelum                      Sesudah                                  
Frekuensi             : 1 x/hari                      1x/hari
Warna                  :khas feses                   Khas feses                              
Konsistensi          : lunak                         Lunak             
Keluhan               :Tidak ada                   Tidak   ada

BAK
Frekuensi              : 3-4 x/hari                   4-5x/hari         
Warna                   : Kuning jernih            Kuning jernih
Konsistensi          : Cair                           Cair
Keluhan               :Tidak ada                   Tidak ada                                                                   
f.       Istirahat
Sebelum                                  Sesudah
Tidur siang                                         
Lama        : 2 jam/hari                              1jam/hari                                
Keluhan   : tidak ada                               Tidak ada
Tidur malam
Lama        : 8 jam/hari                              7jam/hari
Keluhan    : tidak ada                               Tidak ada

g.              Personal Hygiene
Mandi                  : 2x/hari                       3x/hari
Ganti pakaian      :2x/hari                        3x/hari
Gosok gigi           :2x/hari                        3x/hari
Keramas               : 1x/minggu                 1x/minggu
h.              Pola seksual
Frekuensi             : 2x/minggu                 Tidak ada
Keluhan               : tidak ada                   Tidak ada

i.        Pola aktivitas (fisik,olahraga)
1.      Ibu mengatakan sehari hari nya bekerja di tokonya dan melakukan pekerjaan rumah seperti memasak,menyapu,mencuci dan membantu suami
2.      Ibu mengatakan tidak melakukan kegiatan olahraga
10.                        Riwayat kesehatan
a.       Penyakit yang pernah/sedang diderita (menular, menurun dan menahun)
Ibu mengatakan tidak menderita penyakit menular (Hepatitis, TBC, HIV-AIDS), Ibu  mengtakan tidak memilki riwayat penyakit menurun seperti (hipertensi,DM,Asma), Ibu mengatakan tidak pernah/sedang menderita penyakit menahun (Ginjal, Jantung).

b.      Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga (menular, menurun dan menahun)
Ibu mengatakan keluarga tidak pernah/sedang menderita penyakit menular (Hepatitis, TBC, HIV-AIDS), tidak pernah/sedang menderita penyakit keturunan (Asma, DM), tidak pernah/sedang menderita penyakit menahun (Ginjal, Jantung).
c.         Riwayat operasi
Ibu mengatakan tidak pernah melakukan operasi
d.                  Riwayat alergi obat
Ibu mengatakan tidak mempunyai alergi obat.

11.                        Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman beralkohol)
Ibu mengatakan tidak pernah merokok, tidak minum jamu dan tidak minum beralkohol.

12.                        Data psikososial, spiritual dan ekonomi (penerimaan ibu/suami/keluarga terhadap kelahiran, dukungan keluarga, hubungan dengan suami/keluarga/tetangga, perawatan bayi, kegiatan ibadah, kegiatan sosial, keadaan ekonomi keluarga)
a.    Ibu mengatakan suami dan keluarga senang dengan kehamilannnya
b.   Ibu mengatakan hubungan ibu dengan suami, keluarga, dan tetangga baik.
c.    Ibu mengatakan taat menjalankan sholat 5 waktu bersama suami.
d.   Ibu mengatakan mengikuti arisan dengan teman-temannya.
e.    Ibu mengatakan keadaan ekonomi keluarga cukup dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
13.                        Pengetahuan ibu (Kehamilan,Persalinan dan nifas)
a.    Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang kehamilan
b.   Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang persalinan
c.    Ibu mengatakan belum mengetahui masa nifas





B.     Data Objektif
1.    Pemeriksaan umum
Keadaan umum          : baik              Kesadaran       : compos mentis
Status emosional        : stabil
Tanda vital                
Tekanan darah            : 120/70 mmHg           Nadi    : 80 x/menit
Pernafasan                  : 18 x/menit                 Suhu    : 36,5 0C
BB                              :70 kg                          TB       : 160 cm
2.       Pemeriksaan Fisik
Kepala            : mesocephal, simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
  massa, tidak berketombe
Rambut          : hitam, lurus, tidak rontok
Wajah             : oval, simetris, tidak oedema, tidak pucat, tidak ada bekas
  luka
Mata               : simetris, tidak ada sekret, sklera tidak ikterik, konjungtiva
  merah muda,
Hidung           : mancung, tidak ada sekret, tidak ada polip
Mulut             : bibir tidak pecah-pecah, tidak ada stomatitis, gigi tidak
                         caries, gusi tidak berdarah, tidak ada pembesaran kelenjar
  tonsil
Telinga           : simetris, tidak ada serumen, ada gendang telinga,
                         pendengaran normal
Leher              : tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran
                         kelenjar parotis, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,
  tidak ada pembengkakan vena jugularis
Dada              : bunyi nafas normal, bunyi jantung normal, tidak ada
  retraksi dinding dada
Payudara        : simetris, tegang, teraba penuh, bersih,    aerola
                         hiperpigmentasi, puting susu menonjol dan tidak lecet,
                         tidak ada massa, ASI keluar sedikit.
Abdomen       : Bentuk membujur,tidak terdapat linea alba dan nigra,tidk ada bekas operaso
                          Palpasi Leopold
                          Leopold I : Tfu 3 jari di bawah px pada fundus teraba bulat,lunak tidak melenting (bokong)
                          Leoplod II : Bagian kanan ibu teraba bagian kecil kecil janin (ekstremitas)
                                                  Bagian kiri ibu teraba lurus,keras,panjang ( Punggung)
                          Leopold III : Teraba keras, melenting,sudah tidak dapat di goyangkan (kepla)
                          Leoplod IV : Bagian terbawah janin masuk panggul
                          Palpasi supra pubic    : 3/5
                          TFU mnrut Mc.Donald : 33cm                     Tbj : (33-11)160 =3520gr
                          His                             : Kuat,teratur
                          Auskultasi Djj           : 145x/menit
Ekstremitas   
Atas                : simetris, gerakan normal, jumlah jari lengkap, warna kuku
  merah muda, tidak oedema
Bawah            : simetris, gerakan normal, jumlah jari lengkap, warna kuku
                         merah muda, tidak oedema, tidak varises, reflek patella
  ka/ki (+)
Genetalia        : bersih, tidak bengkak, tidak ada pus, vulva tidak varises,
  tidak ada pembesaran kelenjar bartolini
Anus               : tidak haemoroid
3.       Pemeriksaan penunjang Tgl   :21 maret 2013            Pukul   :09.10 WIB
1.      Hb 11,8

2.      Data penunjang
Tanggal 21 agustus 2012
           PP test +
Protein urine –





3.      INTERPRETASI DATA
a.       Diagnosa kebidanan
Ny. N umur 32 tahun G4 P3 A0 Ah3  uk 39 minggu janin tunggal hidup intrauteri  presentasi kepala,sudah masuk panggul persalinan kala 1 fase aktif
Data Dasar:
S :  - ibu mengatakan berumur 32  tahun
       - ibu mengatakan ini kehamilan keempat
       - ibu mengatakan HPHT 22 juni  2012
       
O : - Didapatkan hasil pemeriksaan djj 145x/menit
      - Didapatkan hasil pemeriksaan
      -TTV : TD 120/80 mmHg,     N : 80 x/menit
                   S : 36,5 0C,                R : 18 x/menit
-          Didapatkan hasil pemeriksaan KU baik

b.      Masalah
Tidak ada
Data Dasar:
Tidak ada
4.      IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
Tidak ada
5.    ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
a.              Mandiri
         
b.              Kolaborasi
         
c.              Merujuk

6.      PERENCANAAN                    Tanggal : 12 maret 2013         Pukul : 09.30 WIB
1.    Beri tahu ibu keadaan ibu dan janin nya
2.    KIE nutrisi
3.    KIE relaksasi
4.    Anjurkan suami dan keluarga untuk membantu
5.    Siapkan peralatan persalinan
6.    Observasi KU ibu dan janinnya
7.    Evaluasi kemajuan persalinan pada tiap 4 jam
  
7.   PELAKSANAAN           Tanggal: 12 maret 2013 Pukul : 09.50WIB
1.    Memberi tahu ibu hasil pemeriksaan td: 120/80mmHg,       N : 80x/menit    S: 36,5 0C,R : 18 x/menit  djj145x/menit  Ku: Baik  Kesadraan: Compos mentis
2.      Memberikan KIE nutrisi yaitu makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat seperti (nasi,jagung,roti), protein (telur,tahu,tempe,daging), sayuran hijau,susu dan air putih
3.      Memberikan KIE cara relaksasi yaitu dengan menarik nafas dari hidung dan keluarkan melalui mulut,miring kekiri menganjurkan ibu untuk jalan jalan setelah mampu berjalan
4.      Menganjurkan suami dan keluarga ibu untuk memberikan dukungan kepada ibu
5.      Menyiapkan partus set (2klem,benang,pengikat tali pusat,1/2cocer,benang cutgut,jarum,gunting episiotomi,duk steril,kassa,kapas dtt(heacting set,obat obatan lain handuk 2
6.      Observasi KU ibu janin djj 145x menit,N 80xmenit, R=18x/menit, s=36,5menit
7.      Mengevaluasi kemajuan persalinan pda tiap 4jam sekali


8.      ­­­­ EVALUASI           Tanggal :12 maret 2013         Pukul : 10.15 WIB
1.      Ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan
2.      Ibu bersedia memenuhi nutrisinya dan mengerti cara relaksasi
3.      Suami dan keluarga sudah mendampingi ibu
4.      Peralatan persalinan sudah  di siapkan, Ku ibu baik dan keadaan janin nya baik


                                                             PERKEMBANGAN
KALA II

I.                         DATA SUBYEKTIF                        Tanggal:
1.  Ibu mengatakan perutnya sangat  terasa mulas-mulas yang sangat kuat (his yang sangat kuat), His yang muncul dirasakan  ibu terus-menerus.
2.   Ibu mengatakan mual muntah dan sangat gelisah.
3.   Ibu Merasakan dorongan yang kuat untuk meneran saat timbul kontraksi
4.   Ibu Merasa ingin BAB
II. DATA OBYEKTIF
                1.      Kontraksi uterus 5-7 kali dalam 10 menit, durasi > 40 detik
2.      DJJ 136 x/menit
3.      Hasil pemeriksaan dalam pukul 10.15  Wita
a.  Vulva/vagina tidak ada kelainan
b.  Porsio tidak teraba
c.  Ketuban pecah,jernih
d.  Pembukaan 10 cm
e.  Presentase kepala,ubun-ubun kecil kanan depan tepat di bawah simpisis
f.  Molase tidak ada
g.  Penumbungan tidak ada
h.  Penurunan kepala Hodge IV
i.   Kesan panggul normal
j.   Pelepasan lender,darah dan air jernih
4.  Tanda-tanda vital
a.       Tekanan darah       :  100/70 mmHg
b.      Nadi                       :  90x/menit
c.       Suhu                      :  37°C
d.      Pernapasan            : 28 x/menit
5.      Perineum tampak menonjol
6.      Vulva dan anus terbuka





III.ASESSMENT
1.      Diagnosa kebidanana
Ny”N” Umur 32 tahun G4 P3 A0 Ah3, Uk 39 hamil aterm janin tunggal hidup intra uteri,dalam inpartu kala II dengan emboli air ketuban
2.      Diagnosa Masalah
-

VI. Perencanaan
1.      Pantau tanda dan gejala kala II
2.      Siapkan Pertolongan persalinan
3.      Gunakan APD
4.      Pastikan cuci tangan
5.      Gunakan Sarung tangan
6.      Siapkan oksitosin
7.      Bersihkan daerah vulva
8.      Lakukan periksa dalam
9.      Periksa sarung tangan
10.  Observasi dan bantu ibu untuk pimpin persalinan


V. Pelaksanaan
1. Melihat tanda dan gejala kala II : ada dorongan yang kuat untuk meneran, tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva dan vagina terbuka.
2. Memastikan kelengkapan alat dan bahan pertolongan persalinan : alat sudah lengkap
3. Memakai APD
4. Memastikan lengan/tangan tidak memakai perhiasan dan mencuci tangan dengan abun dibawah air mengalir dan keringkan dengan handuk bersih
5. Memakai sarung tangan DTT
6. Mengisi spoit dengan oksitosin 10 IU
7. Membersihkan vulva dan perineum
8. Melakukan pemeriksaan dalam
9. Mendekontaminasi sarung tangan
10. Mengobservasi DJJ : 136x/menit
11. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap, keadaan janin baik
12. Membantu ibu mengambil posisi meneran ; ibu dalam posisi litotomi
13. Memimpin ibu meneran saat ada his
14. Memasang handuk bersih diatas perut ibu dan duk steril di bawah bokong ibu
15. Memakai handskun steril/DTT
16. Menyokong perineum saat kepala bayi membuka vulva 5-6 cm dengan tangan kanan dan menahan puncak kepala dengan tangan kiri
17. Membersihkan muka, mulut dan hidung bayi dengan kasa steril
18. Memeriksa adanya lilitan tali pusat ; tidak ada lilitan tali pusat
19. Menunggu kepala melakukan putaran paksi luar
20. Melahirkan bayi dengan cara kedua tangan diletakkan secara biparietal pada kepala bayi lalu menarik kepala kearah bawah untuk melahirkan bahu depan dan menarik kepala keatas untuk  melahirkan bahu belakang, kemudiaan melahirkan bayi secara sangga susur ; bayi lahir pukul 06.25 Wita, jenis kelamin laki-laki
21. Menilai bayi segera setelah lahir ; menangis spontan, kulit kemerahan, pergerakan aktif
  22. Mengeringkan dan menyelimuti bayi dengan kain bersih dan kering
  23. Memeriksa fundus uteri untuk memastikan janin tunggal ; janin tunggal

VII. Evaluasi
1. Telah memimpin persalinan dengan langkah APN
2. Telah melakukan pertolongan dan penanganan BBL partus spontan presentasi belakang kepla jani





PERKEMBANGAN
KALA III
I.     DATA SUBYEKTIF
1. Ibu  mengatakan perutnya terasa sangat mulas
2.  Ibu mengatakan terasa mual dan mau muntah
3.  Ibu mengatakan sesak nafas
4.   Ibu mengatakan badan terasa lemah
II.  DATA OBYEKTIF
1.  keadaan umum ibu Nampak lemah
2.  Kala II berlangsung  10 menit
3.  Bayi lahir pukul 06.25  wita, dengan jenis kelamin laki-laki
4.  TFU setinggi pusat
5.   Kontraksi uterus baik, uterus teraba keras dan bundar
6.   Tali pusat bertambah panjang
III. Asassment
1.    Diagnosa Kebidanan
     Ny,N G4P4A0Ah4, inpartu kala III  dengan emboli air ketuban
2.    Diagnosa Masalah
     -
VI. Perencanaan
1.    Lakukan Suntik oksitosin
2.    Lakukan Penjepitan tali pusat,penggantian tali pusat dan lakukan IMD
3.    Lakukan Pemotongan tali pusat
V. Pelaksanaan
1.    Memberitahu ibu bahwa akan disuntik oksitosin, Menyuntikkan oksitosin 10 IU secara IM pada 1/3 paha atas bagian luar
2.    Menjepit tali pusat dengan klem pertama ± 3 cm dari perut bayi,  dan memasang klem kedua ± 2 cm dari klem pertama, memotng tali pusat dan mengikatnya dengan pengikat tali pusat yang steril, Mengganti kain pembungkus bayi dengan kain bersih dan kering,  Melakukan IMD
3.    Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva, Meletakkan tangan kiri di atas simphisis dan tangan kanan memegang tali pusat, Menunggu uterus berkontraksi kemudian melakukan peregangan tali pusat terkendali dengan tangan kanan, sementara tangan kiri melakukan tekanan pada uterus secara dorsocranial, Tangkap plasenta dengan kedua tangan,  putar plasenta searah jarum jam sampai plasenta dan selaput ketuban lahir; plasenta dan selaput ketuban lahir lengkap pukul 06.30 wita

VII. Evaluasi
     Telah di lakukan penyuntikkan oksitosin, dan plasenta lahir 10 menit kemudian










PERKEMBANGAN
KALA IV
I.     DATA SUBYEKTIF
1. Ibu mengatakan perut masih terasa mulas
2. Ibu mengatakan nafas terasa sesak
3. Ibu mengatakan badan terasa lemah
II. DATA OBYEKTIF
1. Plasenta lahir lengkap jam 06.30 wita
2. Ibu nemapak pucat, sianosis, lemah
3. Tanda-tanda vital :
TD       :  90/70 mmHg
N         :  90 x/menit
P          :  28 x/menit   
4. TFU 2 jari dibawah pusat
5. Kontraksi uterus kuat
6.  Perdarahan ± 300 cc mengalir 
III. Asassment
1.      Diagnosa Kebidanan
Ny,N G4P4A0Ah4, inpartu kala IV  dengan emboli air ketuban
2.      Diagnosa Masalah
-
VI. Perencanaan
1.    Lakukan massase uterus
2.    Periksa robekan jalan lahir
3.    Lakukan pemasangan indus dan O2
4.    Jelaskan pada ibu dan keluarga
5.    Siapkan rujukan,rujuk ke RS fasilitas lengkap





V. Pelaksanaan
1. Melakukan masase uterus; uterus teraba keras dan bundar
2. Memeriksa robekan jalan lahir; ada robekan jalan lahir tingkat II
3. Memasang infuse
4.  memasang O2
5.  menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang kondisi ibu saat ini dan  harus dirujuk
6.  memberikan  suport pada ibu dengan melibatkan keluarga dan orang terdekat
7.   mempersiapkan  rujukan dengan BAKSOKU
8.   Merujuk ibu ke RS yang memiliki fasilitas lengkap
VII. Evaluasi
1.         Telah di lakukan massase uterus dan terdapat rubekan jalan lahir ruptur II
2.         Telah di lakukan pemasangan infus dan O2, serta telah di lakukan rujukan


















BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock. Cara masuknya cairan ketuban Dua tempat utama masuknya cairan ketuban kedalam sirkulasi darah maternal adalalah vena endocervical (yang dapat terobek sekalipun pada persalinan normal) dan daerah utero plasenta.Ruputra uteri meningkat kemungkinan masuknya cairan ketuban. Abruption plasenta merupakan peristiwa yang sering di jumpai, kejadian ini mendahului atau bersamaan dengan episode emboli. Etiologinya Kematian janin intrauteri, Janin besar intrauteri, Multiparitas dan  Usia lebih dari 30 tahun. Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi, Menconium dalam cairan ketuban, Kontraksi uterus yang kuat.
Ketika emboli cairan ketuban terjadi, maka akan terjadi penyumbatan aliran darah ibu,                     lama-kelamaan akan mengalami penumbatan diparu, bila meluas akan terjadi penyumbatan aliran darah ke jantung, hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan di jantung, dan dapat menyebabkan kematian, terutama pada wanita yang sudah tua.
Perdarahan juga bisa terjadi, akibat emboli cairan ketuban, sehingga pasien akan mengalami kekurangan volume cairan akibat perdarahan, jika tidak diatasi segera, pasien dapat mengalami syok.
B.  Saran
Dengan makalah ini penulis berharap, mahasiswa dapat memahami konsep teori beserta asuhan kebidanan emboli cairan ketuban, meskipun emboli cairan ketuban jarang ditemukan, namun sebagai tim medis harus tetap waspada akan terjadinya emboli cairan ketuban, sehingga secara tidak langsung dapat mengurango mortalitas ibu dan bayi.




DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arief dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media Ascula Plus
Prof. Dr.dr.Gulardi, Hanifa.Winkjosastro, SPOG.2002. Buku Panduan Paktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Bambang Widjanarko, 2009.Emboli-air-ketuban http://reproduksiumj.blogspot.com
Midwiferyeducator,2010.Emboli-Cairan-Amnion-Eca http://Midwiferyeducator.Wordpress.Com
Aini, 2011. emboli-cairan-ketuban. http://ainicahayamata.wordpress.com
EmirFakhrudin,2009.fisiologi-dan-patologi-cairan-amnionhttp://www.emirfakhrudin.com
Rukiyah  ai yeyeh dan Lia Yulianti.Asuhan Kebidanan IV (patologi kebidanan). 2011. Jakarta.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar